Minggu, 23 Oktober 2011

Terpesona.. atau ???

Pernah gak elo ngebayangin punya saudara 19
Ada elo jadi 20 deh
Udah gitu pake prinsip keseimbangan 10 cewek 10 cowok
Gak kebayangkan gimana jerih payah ortu lo buat jadiin elo semua

#Stop
cerita yang pengen gue tulis bukan cerita
tentang gue dan 19 saudara gue
gue cuma mau tulis salah satu kehidupan gue saat KKN
aduh kalau gue inget jadi geli-geli sendiri
entah mau senang atau sedih atau galau
terserah para pembaca yang menilai

Saat itu gue berdua temen bertugas membeli buku tabungan buat Bank Sampah
Dari satu tempat ke tempat lain gak ada yang jual
Giliran ada yang jual eeeaaaallllaaaahhh 5000 cyin
ngelirik duit dikantong
ehm udah megap-megap alias kempes

nah setelah keliling-keliling kaya komedi putar tetep aja gak nemu-nemu
akhirnya tibalah gue di satu tempat yang menjadi TKP
kira-kira begini kejadiannya

Ngelepas helm nyangkutin di ketek masuk ke toko
“mas, ada buku tabungan?” dengan muka yang rada asem dan seulas senyum tipis, dan suara selembut angin
Masnya bengong dengan tampang kayak mau dikurban alias gak jelas
Sepersekian detik tak ada reaksi

Dalam hati aduh ini mas kesambet apa coba
#belum pernah liat bidadari ya? Atau malaikat? Ngeliat cewek manis biasa aja kali :P
Akhirnya gue ulang lagi
“mas ada buku tabungan gak?
Tiba-tiba dia nyerahin buku tabungan di sebelahnya dengan mata yg masih ke gue

Dengan muka polos rada bego gue terima
Maklum cyin udah panas muter2 gak nemu2 pula
ya gue samber aja tuh buku
hal satu nama, no rek, bla bla bla

gue mikir #hah emang buku tabungan sekolah sekarang ada tulisan B*D ya?
Gue buka-buka kok ada transaksi tabungan
Makin bingung tiba-tiba malaikat datang ngejitak kepala gue
“Hadeuuuhh ini anak itu emang buku tabungan cyiiin… masnya tuh kesambet sama elo!
Udah deh jangan ikutan bego dong”

Dengan muka yang rada kasian dan menahan tawa
Tapi tetep harus cool dong
bukan gue klo gak bisa ngehandle kaya gitu
eye contact tetep terus tambahin senyum dikit

gue balikin buku tabungannya
“mas maksud saya bukan ini tapi buku tabungan kaya yang di sekolah-sekolah gitu ada gak?”
“eh gak ada mbak” dengan muka yg bingung
“oh ya udah makasih ya mas”
seperti biasa gue lempar senyum manis gue. bikin masnya tambah keki :P
#pengen ketawa guling2 liat reaksi masnya sayang di tempat umum

Setelah gue pergi setan menasehati gue
“aduuuhh bego banget sih lo. Harusnya elo tuh ngomong gini
“mas, ada atm gak? Sekalian sama pinnya ya? Terus jangan lupa elo senyum semanis mungkin.
kan lumayan dapet ongkos pulang”
#iya ya setan kadang ada benernya juga kenapa tadi gue gak gitu hadeeeuuhh setan telat sih lo kemane aje sih lo!!!

#aduh maaf ya mas udah bikin mas terpesona sayang situ tinggalnya di NTB  berat diongkos deh hehehe
#kalimat terakhir bukan curcolan lho... just kidding :P

Sabtu, 22 Oktober 2011

Just a little story about me

ber-KKN di negeri orang berasa makan pil kina dan es krim dari yang pait ampe yang manis

pertama sebelum berangkat aja udah banyak titipan dari oleh2 sampai manusia idup :”
hehe maklum status single banyak cobaan cyiin :P

kedua punya keluarga baru yg uniknya minta dipoles ubun-ubunnya #jitak
yuppy namanya juga anak-anak muda yang punya karakter masing2 dengan jiwanya yang bergelora pasti deh ada aja hal yang terjadi

but I am happy with u guys!!!

kalau gue pake pertama kedua ketiga berasa kaya bikin buku aja deh…
mau kkn pasti banyak dong persiapan mulai dari nasehat enyak babe ampe barang2 pribadi mesti kudu wajib  *lebay mode on:P

sebenarnya gue sempet ketar-ketir ketika temen gue bilang di lombok kamar mandinya terbuka atau malah gak ada
hiks hiks T_T berasa di pedalaman aja

awalnya berniat untuk tidak jadi ikut karena buat gue kamar mandi terbuka itu sama aja gue lebih baik gak mandi dan kebayang dong satu bulan lebih gak mandi apa kata dunia??? cewek pula!!! #emansipasi cin emang cowo doang :P

ya nggaklah sejorok-joroknya gue min 1 satu hari mandi sekali #uuppss curcol booo
eh si setan bilang: “udah gak papa lagi kan itu namanya dermawan mau dapat pahala gak?” #dasar setan mane ade setan bilang yg bener enak aje pahala dari mana tan yang ada gue rugi bandar :P

apalagi pengalaman mbak kos yang pernah kesana di lombok
konon katanya kamar mandinya terbuka beratapkan langit berlantai marmer merah alias tanah dan pintunya gak ada penutupnya cyin
#lha wong perempuan lombok mah kembenan mandinya
makin merosotlah semangat 45 gue menjelajah Indonesia Tengah hanya karena kamar mandi

tapi berhubung niat gue sudah bulat sebulat gundu gue gak boleh nyerah
#kadang apa yang kita pikirkan blum tentu benar adanya sodara-sodara camkan itu!!! berasa kaya mau demo :P

so persiapan mulai dari sarung, deodoran, parfum ampe the el el mesti wajib ada
#sssttt bagaimana cara bertahan hidup gue dg kamar mandi itu rahasia dong :P
#ingat sebagai netizen yang baik kita harus bertanggung jawab dalam ranah daring alias gak semua harus diupload cyiin

Alhamdulillah yah sesuatu banget…
gue dapet rumah + kamar mandi dalam
so rencana gue untuk yah paling gak jarang mandi gak terwujud

kasiankan yg di sebelah gue nanti wajahnya merah merona alias empet nyium bau cem-ceman gue :P
walaupun pintunya rada soak dan mesti ditambal triplek gue cukup senang
daripada mandi di tempat umum yang gak jelas arah air mengalirnya ato diintip cowok2 pas mandi
#emang bisa diintip yang ada udah kelihatan kali macam bioskop lebar betz!!

yah namanya juga kkn kan berbakti pada nusa dan bangsa
apapun rintangannya tetap wajib kudu bertahan ya gak cyiiinn??
setuju tidak sodara2 #tosss
Ini cerita gue apa cerita elo?

yuuukk kawan kita sharing…
Aku tunggu ya kabar dari kalian
#berasa ngiklan
buat keluarga baru gue semoga kita tetap bersodara sampai kapanpun
dimanapun kalian berada keep contact yaaa:D

KONSEP RASA SURYOMENTARAM DALAM MENYIKAPI BENCANA ALAM


Indonesia merupakan negara yang rentan akan bencana lingkungan karena letak wilayah yang berada pada pertemuan dua benua. Bencana lingkungan yang melanda berbagai daerah di Tanah Air diperkirakan akan terus meluas dan mengkhawatirkan apabila faktor pencegahan tidak menjadi fokus penanganan. Secara geologis, klimatologis, dan geografis, wilayah Indonesia tergolong rentan (Kompas.com). Tak terhitung berapa banyak kerugian baik moril maupun materil yang timbul ketika bencana terjadi.
Permasalahan yang muncul kemudian adalah efek jangka panjang yang ditimbulkan akibat bencana terhadap kondisi psikologis masing-masing individu. Kehilangan mata pencaharian, harta benda, bahkan anggota keluarga secara bersamaan membuat kondisi psikologis seseorang menjadi labil. Informasi bencana yang begitu pervasif pada media massa dan elektronik menambah beban mental bagi individu karena masing-masing individu mengembangkan pandangan-pandangan yang terdistorsi mengenai bencana.
Ketika bencana alam terjadi maka stimulasi yang muncul merupakan stimulasi yang berlebih atau tidak diinginkan, sehingga mendorong arousal atau hambatan dalam kapasitas pemrosesan informasi. Individu yang mengalami bencana alam tidak hanya dihadapkan pada perubahan kondisi lingkungan tempat tinggalnya, melainkan juga cara hidup mereka setelah bencana, misal seorang petani yang biasanya memanen hasil sawahnya, akibat merapi menjadi kehilangan lahan garapannya, sehingga menjadi tukang bangunan sementara untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.
Perpindahan tempat tinggal sementara di barak-barak pengungsian menimbulkan kondisi psikologis tersendiri. Individu yang tinggal di pengungsian menjadi kehilangan kontrol terhadap lingkungan, sehingga dinamika psikologis mereka terhadap privasi, teritorial, dan ruang personal menjadi tidak optimal karena kebebasan berperilaku mereka menjadi terbatas. Individu yang tinggal di pengungsian terpaksa untuk berbagi ruang personal dengan individu lain, bahkan tidak dikenal sama sekali, sehingga fungsi ruang personal untuk mendapatkan kenyamanan, melindungi diri, dan sarana komunikasi menjadi terabaikan. Kehilangan ruang personal membuat individu tidak dapat berperilaku bebas dan kurang bisa mengekspresikan emosi, sehingga kecenderungan yang muncul adalah stres.  
Dalam pandangan psikologi lingkungan, seseorang akan menjadi stres ketika stressor yang muncul mengancam kesejahteraan seseorang, misalnya meletusnya merapi, tsunami, gempa bumi. Respon stres yang muncul pada individu melibatkan komponen emosional, fikiran, fisiologis, dan perilaku. Adanya transaksi antara sumber stres dengan kapasitas diri menentukan reaksi stres. Jika sumber stres lebih besar daripada kapasitas diri maka stres negatif akan muncul, sebaliknya jika sumber tekanan sama dengan atau kurang sedikit dari kapasitas diri maka stres positif akan muncul (Helmi, 1999). Umumnya masyarakat yang terkena bencana secara langsung merespons bencana alam lebih besar daripada kapasitas diri, sehingga yang muncul pada diri seseorang adalah stres negatif, seperti psikosomatis, toleransi frustasi, kinerja turun dan lain-lain.
Ketika terjadi bencana alam maka individu dituntut untuk memodifikasi kehadiran stimulus lingkungan yang tidak seimbang yang kemudian menjadi pembiasaan secara fisik atau habituasi dan secara psikis atau adaptasi. Menurut Helmi (dalam Helmi, 1999) bahwa ketika seseorang mengalami proses adaptasi, perilakunya diwarnai kontradiksi antara toleransi terhadap kondisi yang menekan dan perasaan ketidakpuasan sehingga orang yang melakukan proses pemilihan dengan dasar pertimbangan yang rasional antara lain memaksimalkan hasil dan meminimalkan biaya.
 Umumnya di Indonesia, ketika seorang individu membuat pertimbangan rasional maka faktor keluarga tidak dapat dipisahkan. Contoh, ketika anak tinggal di Jakarta karena bekerja, kemudian melihat berita di TV, bahwa tempat tinggal orang tuanya di Yogyakarta sedang mengalami bencana meletusnya Merapi, maka anak tersebut datang ke Yogyakarta untuk membawa pergi orang tuanya untuk sementara hingga kondisinya kondusif. Walaupun situasi bencana alam tidak dapat diprediksi, anak tersebut rela mengorbankan waktu, kesehatan, bahkan nyawa untuk membawa pergi orang tuanya menjauhi bencana. Hal yang menarik disini jika dikaitkan dengan konsep Gilligan tentang caring adalah adanya sebuah moral code interpersonal yang “berorientasi-individu”.
Dikemukakan Turiel dan Nucci bahwa bukan kejadian yang menentukan apakah perilaku/ tindakan tertentu dilakukan oleh suatu masyarakat dalam suatu budaya, melainkan interpretasi terhadap kejadian itu. Adanya kewajiban anak menjaga orang tua sebagai bakti anak terhadap orang tua, tanpa mempertimbangkan diri sendiri. Apabila anak tersebut tidak menyelamatkan orang tua di saat kondisi masih memungkinkan dan kemudian orang tuanya menjadi korban, maka akan muncul rasa bersalah dari dalam diri anak tersebut Budaya di Indonesia mempunyai peran yang signifikan dalam pengambilan keputusan. Budaya adalah sebuah sistem dinamis yang digunakan oleh sekelompok orang yang tinggal di sebuah lingkungan yang sama untuk meng-encode dan beradaptasi dengan sekelilingnya, mencari nafkah, berkeluarga, saling berkomunikasi, dan mengatur perilaku sosial mereka.
Konsep perilaku individu tanpa sadar dipengaruhi oleh kearifan lokal dimana individu tersebut berkembang. Dalam budaya Jawa sendiri, ketika individu mengambil keputusan ada konsep mengenai rasa yang dikemukakan oleh Suryomentaram. Rasa menuntun individu untuk mempertimbangkan pilihan-pilihan yang ada  kemudian dipilih berdasarkan pilihan rasional. Hal inilah yang kemudian mempengaruhi kepribadian individu.  Suryomentaram membagi kepribadian menjadi empat dimensi:  fungsi fisikal (dimensi I), emosional (dimensi II), intelektual (dimensi III), dan intuisional (dimensi IV). Ketika individu memilih berdasarkan pilihan rasional, maka individu tersebut telah mencapai dimensi III karena sudah muncul kesadaran personal dalam kognisi individu tersebut.
Ketika seorang individu mengembangkan dimensi IV, yaitu intuisional maka individu tersebut berada pada “jalan simpang tiga”, merupakan fungsi dan tingkat pengintegrasian pribadi dari dimensi III menuju dimensi IV. . Dimensi IV merefleksikan diri sendiri dengan orang lain, apabila diri sendiri tidak ingin disakiti maka jangan menyakiti orang lain, pemahaman bahwa orang lain juga memiliki perasaan yang sama ketika disakiti orang lain dengan diri sendiri akan mengontrol perilaku ketika bersosialisasi di masyarakat. Pada dimensi IV, individu mempunyai pemahaman mengenai kekurangan dan kelebihan diri sendiri. Ketika individu sudah mencapai tahap ini, kemudian muncul perasaan paling benar, maka individu tersebut kembali ke dimensi III. Namun, apabila individu bisa menjaga dimensi IV, maka individu tersebut berkembang ke arah manusia tanpa ciri, yang sehat sejahtera.
Individu yang berada pada dimensi ini akan mengukur ketepatan dalam bertindak di situasi tertentu, bersifat netral, dan mampu memahami diri sendiri. Perasaan yang kemudian tumbuh pada individu tersebut adalah perasaan nyaman, tenang, dan tenteram. Dalam hubungannya di masyarakat, individu ini akan bersikap altruistik, dimana individu akan merasa bahagia ketika bisa membahagiakan orang lain, memandang bahwa orang semua orang sama. Nilai altruisme muncul karena proses olah rasa dengan kehidupan masyarakat Jawa yang menekankan rukun (guyub), seperti ungkapan dalam bahasa Jawa, ora ana kepenak liyane ngepenakake tangga. Ungkapan Jawa yang cocok untuk menggambarkan individu pada dimensi ini, yaitu Memayu Hayuning Bawana ‘Menyelamatkan dunia (tidak hanya manusia, tetapi juga makhluk yang lain dan seluruhnya lingkungan, dsb.)’
Konsep rasa Suryomentaram ini dapat membantu individu dalam mengatasi stres yang muncul ketika bencana terjadi. Menurut Suryomentaram, individu bertindak atas dasar catatan-catatan pengalaman hidupnya. Dalam pengalaman setiap individu yang terjadi ada rasa yang muncul, yakni senang dan susah. Ketika rasa susah yang muncul, umumnya individu akan menolak atau berusaha mengesampingkan perasaan tersebut, sebaliknya rasa senang membuat individu berusaha keras mempertahankannya. Ketika terjadi bencana alam yang muncul pada diri individu kemudian adalah perasaan susah akibat kondisi yang menekan dan perasaan ketidakpuasan akibatnya adalah stres. Padahal kehidupan setiap individu tidak mungkin hanya ada kesenangan tanpa adanya kesusahan. Senang dan susah menyeimbangkan kehidupan manusia. Dengan senang dan susah perasaan individu diasah.
Menurut konsep Suryomentaram rasa hidup yang benar dapat dialami bila seseorang bertindak sesuai dengan 6-sa: sapenake, sabutuhe, saperlune, sacukupe, samestine, dan sabenere. Bila kita dalam bertindak berpegang pada prinsip tersebut (dengan enak, sesuai kebutuhan, seperlunya, secukupnya, semestinya, dan sebenar-benarnya), perasaan tertekan akibat kondisi yang menekan bisa diminimalisir. Ketika terjadi bencana alam, otomatis perasaan susah yang kemudian timbul, agar perasaan tersebut tidak menimbulkan stres negatif yang berkepanjangan, individu berusaha untuk melakukan pembiasaan secara fisik atau habituasi dan secara psikis atau adaptasi.
Salah seorang ibu yang berada di pengungsian mengatakan bahwa suaminya dulu bekerja sebagai petani, akibat meletusnya Merapi, keluarga tersebut kehilangan mata pencaharian, kemudian suami ibu tersebut bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi selama di pengungsian. Apabila mengharapkan bantuan dari orang lain akan lama karena birokrasi yang sulit dengan petugas- petugas tidak bisa diharapkan, sedangkan kebutuhannya harus dipenuhi. Misalkan, ketika menginginkan baju-baju layak pakai, menurut ibu tersebut baju-baju anak yang ada saat itu merupakan baju yang sudah tidak layak pakai karena sebelumnya sudah dipilihin oleh petugas, sehingga baju yang ada yang ada tidak sesuai dengan keinginan. Oleh karena untuk memenuhi kebutuhan anaknya terhadap baju, ibu tersebut membelikan baju khusus untuk anaknya. Bagi ibu tersebut, anak-anaknya harus tetap dijaga kesehatannya, walaupun dalam kondisi yang memprihatinkan. Uang yang dimiliki digunakan untuk kebutuhan yang penting bagi buah hatinya (sabutuhe), sedangkan bagi ibu itu sendiri menggunakan baju-baju yang kurang layak tersebut tidak masalah selama beliau bisa menjaga buah hatinya. Pilihan rasional ibu tersebut adalah kekhawatiran akan kondisi kesehatan buah hatinya apabila menggunakan pakaian yang kurang layak tersebut. Orang Jawa percaya bahwa dengan membuat anak senang maka akan membuat mereka lebih tahan terhadap penyakit dan jauh dari ketidakberuntungan (Subandi, 2008).
Kehilangan kontrol terhadap lingkungan bisa dikurangi dengan olah rasa hidup menurut Suryomentaram bahwa hidup yang benar adalah seimbang, ada senang maupun susah. Hidup jika diibaratkan seperti sebuah roda yang berputar, ketika senang individu berada di puncak roda dan sebaliknya ketika susah berada di bawah roda. Ketika berada di tempat pengungsian, individu menjadi kehilangan privasi, maka begitu juga individu lain. Jika menggunakan konsep rasa Suryomentaram pada situasi bencana, adanya pemahaman mengenai kondisi psikologis masing-masing individu sehingga perilaku menjadi terkontrol antara satu individu dengan individu lain maka akan tercipta sebuah perasaan nyaman, tenang, dan tenteram.
            Kearifan lokal tanpa sadar bisa merupakan alternative healing bagi penyelesaian konflik dalam diri. Tanpa sadar terinternalisasi dalam kepribadian individu dalam pengambilan keputusan yang rasional. Proses adaptasi yang muncul mengurangi sumber stres sehingga berimplikasi pada munculnya stres positif yang bisa meningkatkan kehidupan pribadi seorang individu dalam menghadapi bencana alam. Beban akibat bencana alam memang berat, namun apabila ditanggung bersama-sama akan terasa lebih mudah. Strategi coping menggunakan kearifan lokal konsep rasa Suryomentaram membuat setiap individu untuk membuat keputusan yang rasional dalam mengukur ketepatan bertindak. Kehidupan masyarakat Jawa yang menekankan rukun (guyub) membuat setiap individu bisa berbagi dalam pemanfaatan berbagai sumber daya psikologis, sosial, budaya, maupun sumber daya praktis lainnya, sehingga proses healing menjadi lebih cepat.
           

Sumber:

Helmi, A. F. (1999). Beberapa Teori Psikologi Lingkungan. Buletin Psikologi Tahun VII, No. 2 Desember. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Kim, Uichol, dkk. (2006). Indigenous and Cultural Psychology: Understanding People in Context. USA: Springer.

Purnomo, K. (2008). “Bencana Alam di Indonesia Akan Meluas”, Kompas 27 November. http://nasional.kompas.com/read/2008/11/27/05384045/bencana.alam.di.indonesia.akan.meluas.

Subandi, M.A. (2008). Ngemong: Dimensi Keluarga Pasien Psikotik di Jawa. Jurnal Psikologi, Volume 35, No. 1, 62-79, hal 62-79. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.  

Efek Mahasiswa yang Gak Pernah dapat Kunjungan Orang Penting

Lagi-lagi gue pengen cerita tentang gue dan 19 saudara gue. Seperti biasa gue sebagai pemain utama dong  (halah sok ngartis).

Ini cerita pas gue KKN di NTB Unit 150 Labuhan Lombok…
Ceritanya berawal di sebuah pondokan kecil di jl. Kayangan Labuhan Lombok. Ini cerita yang membuat gue merasa paling berdosa selama hidup gue ber-KKN. Pada saudara-saudara gue senasib dan seperjuangan 150 BISA! (Ngiklan dulu ye… yuukk!!!) #lebai mood on (bacanya jangan lupa ada tekanannya macam kormasit Sandubaya Timur :P mo-de-on)

Kejadian ini membuat image gue menjadi taruhan. Iya tyas yang pendiam, rajin menabung, dan tidak sombong (kata-kata promosi diri zaman SMA). Tiba-tiba berubah menjadi ehm tiiiiiiiiiiitttt  #silahkan teman-teman yang mendeskripsikan… monggo

Ngalor ngidul ngetan ngulon cerita gak mulai-mulai para pembaca udah kesel. Maap yeee namanya juga cerita harus panjang biar tulisan gue laku dijual

Oke gue mulai ya cyin. Kalau direkonstruksikan begini jalan ceritanya…

Di pagi hari yang cerah dengan matahari yang tersenyum pada dunia. Jam 07.00 pagi waktu setempat tiba-tiba terdengar suara. Ddddrrrrttttt ddddrrrrrttttt ddddrrrrrrtttt handphone gue bunyi. Muka teler abis striping sinetron (kan gue artis ceritanya :P ). Judulnya “sahur sahur ngebabu yuuuuukkk”.

Setengah hidup setengah mati gue buka sms. “Tyas bapak dari sambiyan mau mampir ke unit kalian. Pondokan kalian dimana? Masih konslet gue tidur lagi tahu-tahu plak malaikat jitak kepala gue. “heh cinta bangun dong liat yg bener siapa yang sms”. Dalam hati aduh kat (malaikat red) resek banget ngapain sih ganggu gue. Mentang-mentang setan lagi di borgol elo enak banget jitak kepala gue. Gara-gara jitakan malaikat jaringan neurosains gue berfungsi kembali. Gue merecall semua peristiwa yang baru terjadi. Inget-inget perasaan tadi ada yg sms deh gue buka inboks gue.

“hah pak Heru (bukan nama sebenarnya) sms mau kesini pula masyaallah pagi yang indah”.  Tanpa ba bi bu be bo macam anak baru belajar ngomong gue bangunin aja ketua geng gue yang ronda.  “Gi bangun nih ada sms Pak Heru,  lo baca sendiri nih” gue sodorin handphone butut gue. Ketua geng gue bangun dari hibernasi dengan muka yang ehm ehm…#maaf saya sensor kawan-kawan berhubung jabatan dia lebih tinggi dan sebagai staf yang baik saya harus menjaga nama baik kepala geng :P Merdeka!!! (opo siiiiihhh (-__-)”)  (Gak enak kalau gue deskripsiin dari ujung kepala sampai kaki keadaan ketua geng gue yang baru bangun tidur).

Bagai kesetrum listrik PLN ketua geng gue bangun dari tidur panjangnya. Eng ing eng meloncat dari sleeping bag dengan muka yang belum kena air dan mungkin dengan masker alami alias iler masih menempel  (peace gi :P ). Lo tau kata pertama apa yang dia bilang dengan gaya mabuk baru bangun tidur? “eh bangun-bangun korkab mau datang!!! Ayo bangun!!! Ayo bersih-bersih!!!

Temen gue yang gak bangun-bangun kena semprot juga “ heh bangun korkab-korkab! Ayo bersih-bersih rumah korkab mau datang!!! Ayooo cah bangun !!!” sambil teriak dengan semangat empat lima, tangan kanan megang trisula eh salah maksudnya sapu ketua geng gue semangat banget macam satpol PP kerja.             Gue gak tahu dibalik badannya yang mungil tersimpan teriakan yang luar biasa kawan kawan! Bravo! Applause buat ketua geng gue!

Temen gue yang baru datang dari negeri antah berantah (maksudnya ngilang pagi-pagi buta) nanya ke gue “eh Yas ada apa sih ada apa? Temen gue heran tiba-tiba di pagi hari yang sunyi dipecahkan oleh suara ketua geng dengan kata-kata ‘magic’ korkab-korkab. Gue yang belum tahu kesalahan gue dengan polos  gue bilang “itu Pak Heru mau datang”. Dengan muka yang datar dari temen gue yang baru nongol terlontar jawaban yang sungguh sangat diplomatis “oooohh Pak Heru”.

Oh iya sebelumnya, gue bales sms bapaknya “pondokan kami di Jl. Kayangan arah pelabuhan nanti ada tandanya pak.” Pas ketua geng gue semangat bersih-bersih sms masuk dddrrrttt.
Kawan tahukan kamu apa yang beliau jawab “Tyas maaf kemaren bapak gak jadi datang, dipanggil sama pak bupati harus segera balik kapan-kapan bapak mampir”

Serasa seperti digampar dan bingung kenapa ada kata “KEMAREN” gue baca ulang sms yang pertama dari beliau (maklum bagian neurosains gue belum pulih dari tidurnya pas gue baca smsnya).
Dan elo tahu kawan gue sungguh menyesali kedodolan gue hari itu. Tiba-tiba image yang gue bangun seketika runtuh gak berbekas. #halahlebai.  You know what???

SMS nya itu kemaren sore pukul 19.37 dan gue baru terima pukul 07.00. Dweeeennnggg seperti baru habis diusir dari kayangan gue balik lagi ke dunia dan ngerasa dunia gue telah berubah sejak terakhir gue berkunjung…  #sokjadibidadari :P

Gue bingung gimana ngejelasin ke ketua geng gue antara bersalah sama bingung nyari alasan.  Akhirnya gue tanya sama temen gue yang cewek “Fatim… ehmm (masih mikir kasih tahu nggak ya aduh entar ketauan kalau gue dodol) tapi dengan berjiwa besar (maksudnya malu pisan) gue beranikan diri. “Fatim gue salah kasih tahu ke Yogi ternyata smsnya kemaren bukan sekarang kasih tahu gak ya? Aduh gimana dong Fatim?”.
Dengan raut wajah yang pengen bilang “ealaaaahhh Tyas kok bisa tho? Kowe ki jan marai emosi ” terlontar jawaban yang sungguh bijak yang gue nggak pernah menyangka. Dia bilang “gak usah yas biarin biar rumahnya bersih… gak papa”. Sebenarnya gue setuju sama kawan gue Fatim tapi sebagai kormanut gue gak mau dibilang durhaka pada ketua geng T_T

Dengan perasaan bersalah tapi pengen ketawa gue mikir “gue gak mau di sisa akhir hidup, gue digentayangin ketua geng gue gara-gara rasa bersalah gue”.
Akhirnya dengan pasang muka polos, gigit bibir, tatapan mata sendu (efek nonton sinetron). Gue bilang ke ketua geng “Yogi emmm… maaf itu smsnya kemaren baru masuk tadi pagi. Pak Heru gak jadi datang. maaf gi?”

Gue seperti ngeliat film horor liat tampang ketua geng gue. Entah apa perasaan ketua geng gue yang penting gue lega daripada gue dihantui ketua geng. Gue ngerasa dalam hati yang paling dalam ketua geng gue mau bilang “hei Yas push up 100x itu hukuman elo yang udah berani ngerjain gue”.
Untungnya kagak ye ye ye ye horeiiii. Gue selamat dari semprotan ketua geng

n.b : T_T maaf gi sumpah gue gak bohong kok yang salah providernya bukan gue hiks hiks.

Catatan:
Kalian gak tahukan siapa Pak Heru? Apa kiprahnya dalam cerita gue? terus kenapa gue ma kawan-kawan macam cacing kepanasan? mau tahu???

Beliau adalah alumni universitas gue, berhubung di universitas gue alumni sangat berpengaruh. Apalagi sesama masyarakat universitas kita harus menjalin hubungan yang harmonis. Berhubung gak pernah ada orang penting (maksudnya dosen dan koleganya) yang berkunjung untuk sidak kita biasa aja. Rumah berantakan yo monggo… namanya anak muda (ngeles) :P

Korkab : koordinator kabupaten. Salah satu jabatan yang penting saat KKN.